Alhamdulillah, samada sedar atau
tidak, kini kita telah pun berada pada fasa ke-2 Ramadhan. Jika sebelum
Ramadhan, kita pohon pada Allah, “Allahumma ballighna Ramadhan”, maka
sesungguhnya Allah telah memakbulkannya, kita telah pun sampai ke bulan Ramadhan.
Sekarang kita pohon pula untuk sampai ke pengakhir Ramadhan, namun sejauh mana
usaha kita dalam meraikan Ramadhan? Apakah sekadar semangat ke bazar Ramadhan? Mungkin
juga semangat menanti 1 Syawal setelah Ramadhan. Renung-renungkan.
Sudah agak lama tidak meng’update’
SiFiR HiDuP. Alhamdulillah, diberikan ruang untuk berkongsi serba sedikit, semoga
ianya bermanfaat kepada semua, terutamanya diri ini yang serba dhaif. Apa yang
ingin disampaikan, sepertimana yang tertera pada tajuk di atas. Di bulan yang
mulia ini, diuji sedikit oleh Allah s.w.t. dengan cuaca yang panas. Tidak
dinafikan hujan lebat di sesebuah kawasan dan ada yang dilanda banjir, namun
sebagai manusia yang dikurniakan akal fikiran, seharusnya kita mengambil
pengajaran di atas setiap apa yang berlaku.
Keunikan perumpamaan al-Quran
melalui elemen alam semulajadi yakni air hujan. Firman Allah s.w.t. di dalam
surah al-Ra’d, ayat 17:
أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً
فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا وَمِمَّا
يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ
كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً
وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ
الأمْثَالَ (١٧)
"Allah telah menurunkan air (hujan)
dari langit, maka mengalirlah air itu di lembah-lembah menurut ukurannya, maka
arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari (logam) yang mereka lebur dalam
api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada pula buihnya yang seperti buih
arus tersebut. Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang yangbenar dan yang
batil. Adapun buih akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya, tetapi
bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi. Demikianlah Allah membuat
perumpamaan.”
• Untuk menjelaskan
kepentingan hak dan batil, Al-Qur'an menggunakan hujan sebagai perumpamaan.
Ketika air hujan itu turun dari langit, ia mencucur dalam keadaan bersih.
Kemudian ketika mengalir di permukaan bumi, air itu menjadi kotor kerana lumpur
dan berbagai kotoran yang terdapat di atas tanah. Terkadang kotoran tersebut
berubah menjadi buih. Ketika air hujan itu mengalir sampai ke lembah-lembah,
maka buihnya hilang sedikit demi sedikit dan kembali menjadi bersih.
• Hak dan batil seperti air
tersebut. Sementara buih-buih yang kotor diperumpamakan sebagai kebatilan dan
air suci yang mengalir sebagai hak dan kebenaran.
No comments:
Post a Comment