Bismillahirrahmanirrahim...

"Wahai Tuhanku, ilhamkanlah daku supaya tetap bersyukur akan nikmat Mu yang Engkau kurniakan kepadaku & kepada ibu bapaku, & supaya aku tetap mengerjakan amal soleh yang Engkau redoi. Perbaikilah keturunanku. Sesungguhnya aku b'taubat kpd Mu & sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri." [al-Ahqaf:15]

Wednesday, 1 August 2012

Keunikan Perumpamaan Al-Quran Melalui Elemen Alam Semulajadi: Air Hujan

 
                Alhamdulillah, samada sedar atau tidak, kini kita telah pun berada pada fasa ke-2 Ramadhan. Jika sebelum Ramadhan, kita pohon pada Allah, “Allahumma ballighna Ramadhan”, maka sesungguhnya Allah telah memakbulkannya, kita telah pun sampai ke bulan Ramadhan. Sekarang kita pohon pula untuk sampai ke pengakhir Ramadhan, namun sejauh mana usaha kita dalam meraikan Ramadhan? Apakah sekadar semangat ke bazar Ramadhan? Mungkin juga semangat menanti 1 Syawal setelah Ramadhan. Renung-renungkan.

                Sudah agak lama tidak meng’update’ SiFiR HiDuP. Alhamdulillah, diberikan ruang untuk berkongsi serba sedikit, semoga ianya bermanfaat kepada semua, terutamanya diri ini yang serba dhaif. Apa yang ingin disampaikan, sepertimana yang tertera pada tajuk di atas. Di bulan yang mulia ini, diuji sedikit oleh Allah s.w.t. dengan cuaca yang panas. Tidak dinafikan hujan lebat di sesebuah kawasan dan ada yang dilanda banjir, namun sebagai manusia yang dikurniakan akal fikiran, seharusnya kita mengambil pengajaran di atas setiap apa yang berlaku.

                Keunikan perumpamaan al-Quran melalui elemen alam semulajadi yakni air hujan. Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-Ra’d, ayat 17:


أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ (١٧)


"Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air itu di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada pula buihnya yang seperti buih arus tersebut. Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang yangbenar dan yang batil. Adapun buih akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya, tetapi bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan.”                                          
                                                                                                                                                                                                           
    Untuk menjelaskan kepentingan hak dan batil, Al-Qur'an menggunakan hujan sebagai perumpamaan. Ketika air hujan itu turun dari langit, ia mencucur dalam keadaan bersih. Kemudian ketika mengalir di permukaan bumi, air itu menjadi kotor kerana lumpur dan berbagai kotoran yang terdapat di atas tanah. Terkadang kotoran tersebut berubah menjadi buih. Ketika air hujan itu mengalir sampai ke lembah-lembah, maka buihnya hilang sedikit demi sedikit dan kembali menjadi bersih.

      Hak dan batil seperti air tersebut. Sementara buih-buih yang kotor diperumpamakan sebagai kebatilan dan air suci yang mengalir sebagai hak dan kebenaran.